PENGKHIANATAN Aku pernah patah hati, pernah sakit hati, tapi aku bersyukur, Tuhan memberiku kekuatan untuk bangkit. Untuk saat ini, aku berpikir…kekuatan sebesar apa yang bisa memyembuhkan sakit hati semacam ini, yang dialami seorang yang sangat dekat denganku?
Pengalaman jatuh dan bangun, membangun sebuah mimpi akan suatu ikatan abadi yang dinamakan pernikahan, yang dipersatukan atas nama Tuhan. Tapi ternyata tidak semua orang berpikir sama tentang sebuah pernikahan. Tidak semua orang bahkan sadar dan peduli bahwa Tuhan berperan dalam hidup rumah tangga mereka.
Aku tidak bermaksud arogan dengan membawa ajaran agama tertentu yang paling benar. Walaupun aku bersyukur, apa yang aku yakini saat ini adalah apa yang aku anggap ideal. Walaupun aku tahu semua kembali lagi pada pribadi, dan aku juga tahu setan selalu ada dekat dengan manusia. Tapi nuraniku sebagai wanita menolak…mengecam… Aku yakin dengan dalih apapun, entah kepercayaan, budaya atau apapun…tidak ada satu wanitapun yang rela untuk diduakan, dikhianati, disisihkan dan disia-sia. Wanita munafiklah yang menyembunyikan hancurnya jiwa mereka dengan berkata baik-baik saja. Laki-laki bajinganlah yang pura-pura tidak peduli dengan emosi pasangannya. Orang yang tidak punya hatilah yang mendukung tindakan ini, apapun alasannya.
Saat ini aku menangis sebagai seorang wanita, yang ikut merasakan pedihnya dikhianati, disakiti dan disisihkan. Sebagai seorang wanita dengan ketidaksempurnaan yang seharusnya mendapat dukungan namun malah ditinggalkan oleh orang yang dikasihinya demi sebuah keluarga baru yang dia bangun. Pengkhianatan yang sempurna. Mengapa setan menguasai laki-laki ini sampai ia sanggup mengingkari janji untuk membahagiakan wanitanya dihadapan Tuhan? Mengapa ia sanggup memberi luka yang begitu perih untuk seseorang yang dia tau pasti hatinya? Apakah kesetiaan sudah tidak ada artinya?
Ada yang berkata, sesuatu dikatakan masalah bila ada solusinya. Untuk hal ini…aku rasa apapun solusinya, hati sudah terkoyak. Seperti sebuah gelas yang pecah, walaupun diperbaiki tidak seindah keadaan sebelumnya.
Pengalaman jatuh dan bangun, membangun sebuah mimpi akan suatu ikatan abadi yang dinamakan pernikahan, yang dipersatukan atas nama Tuhan. Tapi ternyata tidak semua orang berpikir sama tentang sebuah pernikahan. Tidak semua orang bahkan sadar dan peduli bahwa Tuhan berperan dalam hidup rumah tangga mereka.
Aku tidak bermaksud arogan dengan membawa ajaran agama tertentu yang paling benar. Walaupun aku bersyukur, apa yang aku yakini saat ini adalah apa yang aku anggap ideal. Walaupun aku tahu semua kembali lagi pada pribadi, dan aku juga tahu setan selalu ada dekat dengan manusia. Tapi nuraniku sebagai wanita menolak…mengecam… Aku yakin dengan dalih apapun, entah kepercayaan, budaya atau apapun…tidak ada satu wanitapun yang rela untuk diduakan, dikhianati, disisihkan dan disia-sia. Wanita munafiklah yang menyembunyikan hancurnya jiwa mereka dengan berkata baik-baik saja. Laki-laki bajinganlah yang pura-pura tidak peduli dengan emosi pasangannya. Orang yang tidak punya hatilah yang mendukung tindakan ini, apapun alasannya.
Saat ini aku menangis sebagai seorang wanita, yang ikut merasakan pedihnya dikhianati, disakiti dan disisihkan. Sebagai seorang wanita dengan ketidaksempurnaan yang seharusnya mendapat dukungan namun malah ditinggalkan oleh orang yang dikasihinya demi sebuah keluarga baru yang dia bangun. Pengkhianatan yang sempurna. Mengapa setan menguasai laki-laki ini sampai ia sanggup mengingkari janji untuk membahagiakan wanitanya dihadapan Tuhan? Mengapa ia sanggup memberi luka yang begitu perih untuk seseorang yang dia tau pasti hatinya? Apakah kesetiaan sudah tidak ada artinya?
Ada yang berkata, sesuatu dikatakan masalah bila ada solusinya. Untuk hal ini…aku rasa apapun solusinya, hati sudah terkoyak. Seperti sebuah gelas yang pecah, walaupun diperbaiki tidak seindah keadaan sebelumnya.
Untuk hal ini, aku yakin…kekuatan akan diberikan. Entah kekuatan semacam apa, entah berapa lama waktu yang bekerja, Tuhan pasti memanggul penderitaan kita. Aku percaya Dia tidak akan memberi penderitaan yang lebih besar dari kekuatan yang kita punya.