Showing posts with label nationalism. Show all posts
Showing posts with label nationalism. Show all posts

Thursday, April 09, 2009

PEMILU

Aku risih sekali dengan Pesta Demokrasi kali ini, yang menguras banyak uang tapi mengingat proses persiapan, pelaksanaan dan (aku prediksi hasilnya akan) menyedihkan. Pemilu kali ini aku bener-bener gak content.


Aku sama sekali tidak ‘doyan’ politik. Tapi bukan berarti aku gak bisa menilai pemilu kali ini sangat tidak efektif. Begitu banyak calon legislatif yang notabene tidak ‘qualified’ yang siap ber-gambling. Lembaran kertas suara besar dihiasi gambar-gambar partai baru dan sejumlah muka-muka tidak dikenal, harus aku contreng. Siapakah mereka? Apakah 'trust' dari rakyat bisa dibeli? Aku juga yakin bukan hanya aku yang tidak paham, mungkin lebih dari setengah penduduk Indonesia juga berpikir demikian.


Apakah kertas-kertas suara itu dipakai secara benar? Bagaimana dengan kertas untuk mereka yang memutuskan untuk golput atau kertas yang digunakan tapi menjadi tidak sah karena pemilih kurang paham? Adalah sebuah ironi melihat pemborosan di Negara ini.

Sunday, January 18, 2009

DID YOU KNOW?


  • Indonesia has the world's longest coastline at nearly 85,5000km.
  • Indonesia is home to more volcanoes than any other country.
  • Jakarta, Indonesia capital, is the city's fourth name after Sunda Kelapa, Jayakarta, Batavia.
  • In 1962 when Senayan Stadium hosted the Asian Games, it was the largest stadium in Asia, holding over 100,000 people.
  • Indonesia is the largest archipelago in the world.
  • When the Dutch arrived, they planned Jakarta to serve as a tropical Amsterdam, which is how many people regarded the city during the 18th cemtury.
  • The Wisma BNI 46, measuring 262 meters tall, is one of the tallest buildings in the southern hemisphere.

(Source: Jakarta Java Kini: Expat Directory)

Wednesday, January 14, 2009

JAM SEKOLAH DIMAJUKAN

Kebijakan majunya jam sekolah di Jakarta yang baru berlangsung kurang dari 10 hari ini tentu masih perlu penyesuaian dari tiap individu. Ini mungkin bukan suatu issue lagi. Tapi benarkah mekanisme politis ini benar bertujuan untuk mengurangi kemacetan? Walaupun bersyukur sekolah tempatku bekerja tidak/belum mengikuti majunya jam sekolah ini, aku risih dengan peraturan ini. Aku rasa tidak cocok ini dinamakan KEBIJAKAN, karena ini tidak bijak. Mungkin ini subjektif, tapi memang sejak hari pertama diberlakukannya anak sekolah masuk jam 6.30, aku merasa dirugikan karena perjalananku menuju tempat kerja bertambah macet dan bukan berkurang.

Sekarang aku tidak bisa lagi berangkat jam 6 pagi dengan harapan sampai di sekolah jam 6.45 seperti biasa. Kemacetan bertambah ketika aku harus menerobos kepadatan kendaraan dari mereka yang mau berangkat sekolah, terutama ketika melintasi wilayah sekolah mereka. Waktuku diperjalanan tepat ketika mereka terburu-buru mengejar waktu masuk sekolah.

Musim hujanpun sudah datang. Jelas ini akan menambah semarak kemacetan kota. Semoga tidak terjadi hambatan yang cukup berarti untuk semua pengguna jalan. (walah...kayak polisi lalin aja).

Monday, October 13, 2008

CULTURAL AND HISTORICAL TOUR
OLD JAKARTA, SUNDA KELAPA AREA

Sunda Kelapa was one of several ports along Java coastline once used by the Sundanese Kingdom of West Java. My tour of Old Jakarta includes the following sites, which are near each other: Sunda Kelapa harbor, the Bahari Museum and Menara Syahbandar, the lookout tower. Close by - in the Kota area of the city - is Fatahilla Square. I visited Fatahilla Square few days before, but my friends and I wanted to experience the Cafe Batavia again.

Sunda Kelapa harbour is one of the most interesting and picturesque sites of Jakarta. To watch the bustling activities at Sunda Kelapa is a feast for the eyes. Lined up along the quay, the large wooden sailing vessels are painted in bright colors and still carry the same design that has been used for centuries by islanders of the archipelago.

Pinisi boats awaiting cargo at Sunda Kelapa Harbor.
Strike up a conversation with the sailors and workers, and you may be invited aboard one of the schooners.

We can rent a canoe to ride along the harbor and acroos to the Bahari Museum

I forget to take picture of the Bahari Museum. The sturdy construction of the warehouses ensured the centuries-long survival of the buildings, which now house the collection of the Maritime Museum. The museum now displays Indonesia's maritime history.

Menara Syahbandar - Lookout Tower is where we can see an excellent view of Old Batavia.

Menara Syahbandar from below

Oops, missed the harbor scene

We asked a man who paddled our canoe who said we had one more site left to visit. That was Pasar Ikan (Fish Market). Unfortunately, our time was not right. Fresh fish is sold at the covered market starting at 3 a.m. every day.

(Source: The Jakarta Explorer, 1999)

Thursday, October 09, 2008

CULTURAL AND HISTORICAL TOUR
FATAHILLA SQUARE

Yesterday I went to Taman Fatahilla (Fatahilla Square) with two friends. This was the town square and administrative center of 18th-century Batavia. Flanked by the Batavia city hall on the south and the Dutch Reformed church on the west, the town square was the center of much activity during the 18th century. The square in front od the city hall was used for public executions as well as pleasant events such as weekly fairs, markets and holiday festivals.

There are many things to be seen and to be visited in this town square. I would love to put the photos rather than explaining much of them.

The old town scene along the way to the Fatahilla Square
Museum Sejarah Kota Jakarta-Jakarta History Museum

Behind the Museum there's a statue of Hermes (Greek Mythology)

Here are what we can see in the museum.
Replica stones from the first Hindu Kingdom in Java, The Tarumanegara Kingdom of the 5th century

Si Jagur - Old Potuguese Cannon

Museum Wayang - Puppet Museum

Balai Seni Rupa - Museum of Fine Arts

Cafe Batavia, one of the Jakarta's oldest buildings

Friday, September 26, 2008

TRADITIONAL DANCE ON LEBARAN ASSEMBLY

Today is the last day of school before we have 3-week holiday for Lebaran and mid-semester break. Wondering what I would have to do during my days off from school, I'm grateful that I can recharge my energy for the days ahead.


Today, we have Lebaran Assembly at school. All teachers and students were all gathered in the gym. Related to the theme, the assembly was all about Lebaran or Muslim practices in form of songs, dances, video project and play. All grades participated in performing something. And my favorite performance was Tari Saman,from the Grade 10 class.


Tari Saman is a traditional dance from Aceh, where almost all of the people are Muslim. The lyrics of the musics are in Aceh language or Arabic, and usually the music is generated from the dancers clapping hands. In Aceh itself, Tari Saman is use to perform in traditional big events, specially on Prophet Muhammad birthday.

"Propet Muhammad is the central human figure of the religion of Islam and is regarded by Muslims as the messenger and prophet of God, the last and the greatest law-bearer in a series of prophets of Islam."(http://en.wikipedia.org/wiki/Muhammad)


What makes Tari Saman itself is so interesting to me, is their skilled-hands movement and punctuation formation. Individuals need perfect concentration while the group performs together as a team.


Here is the link of the dance if anyone feel interested to know. Enjoy!


http://www.youtube.com/watch?v=87ZIfpL9nSk



Saturday, September 20, 2008

WISATA MASAKAN INDONESIA

Kemarin sore buka puasa bersama teman-teman kantor di wisata masakan Indonesia Jakarta City Center (JaCC). Teman-teman memilih tempat itu supaya bisa berlama-lama ngobrol, tempatnya nyaman karena tidak terlalu ramai dan bisa nge-jam nyanyi. Menurutku tempatnya bagus dan representatif sekali untuk menjadi wadah yang menyatukan kuliner dari berbagai daerah di Indonesia yang begitu kaya.

Sayangnya...tempat itu bukannya tidak terlalu ramai, tapi tidak ramai alias sepi. Ketidakramaian itulah yang aku khawatirkan. Hadirnya one stop kuliner Indonesia jarang sekali aku dapatkan, dan kini aku dapatkan satu tempat tetapi tidak banyak pengunjungnya. Mungkin hasil akirnya adalah tutupnya usaha itu.

Apakah karena kurang publikasi atau lokasi yang kalah pamor dengan shopping center yang mengelilinginya atau memang banyak orang yang tidak menyukai selera nusantara dan lebih memilih fancy restoran?

Berdiskusi dengan sayangku tentang hal ini...dia mengatakan bahwa aku seorang business analyst. Aku tersenyum... Tidak sejauh itu...aku hanya fokus pada apakah banyak orang yang/ masih menghargai masakan nusantara.

Monday, August 18, 2008

TANAH AIRKU, INDONESIA

Hari Senin ini aku masih libur dalam rangka Hari Kemerdekaan. Aku menggunakan banyak waktu untuk membaca, khususnya membaca pikiran-pikiran orang yang menghibur dan memberi inspirasi lewat tulisan di blog mereka. Aku merasa kecil dan bodoh.

Terutama di usia ke-63 Kemerdekaan bangsa ini, harusnya aku lebih mengenal Indonesiaku. Mengaku 100% nasionalis, aku jadi malu. Bukan berarti aku tidak mencintai bangsaku, tapi ternyata aku melihat banyak sekali orang asing yang lebih mengenal negara ini. Mereka tau keindahan maha luar biasa yang bisa dinikmati di negeri ini. Mereka menikmati dan mencintai keragaman budaya dari negara kepulauan ini. Banyak dari mereka yang belajar bahasa dan budaya Indonesia.

Belum lama aku membaca sebuah buku tentang Indonesia. Buku itu cukup detail menceritakan sejarah sampai perkembangan setiap kota di Indonesia. Kelengkapan informasi yang membuat aku berucap, “oh ya?”. Bodohnya adalah aku di posisi yang salah. Ternyata author dari buku itu adalah seorang Belanda yang bekerjasama dengan photografer berbakat Hungaria yang telah tinggal di Indonesia sekitar 20 tahun. Hey, lama dia tinggal di bumi Indonesia ini tidak melebihi umurku, apalagi umur bapakku. Tapi mengapa dia bisa membuatku diposisi yang terheran-heran dengan realita di bumi ini. Bodohnya!

Sempat terfikir, apakah karena masalah sosial ekonomi ataukah kegagapan teknologi yang membuat banyak orang pribumi terbelakang? Hari ini aku melihat banyak penulis handal yang mempromosikan Indonesia pada dunia. Banyak fotografer berbakat yang membuat kita merasa terlibat melalui bidikan kameranya. Mungkin semua sudah ada bagiannya. Syukurnya, hari ini apa yang aku lihat, banyak anak negeri yang membanggakan dan dengan bangganya mereka mempublikasikan Indonesia pada dunia. Memang seharusnya kitalah punya sense untuk peran ini. Aku baru tahu...dan akulah yang terbelakang disini. Mungkin seperti sebuah phrase dalam iklan...”Buka mata, semua ada solusinya”. Aku bisa dan aku mau menjadi bagian untuk membangun bangsaku. Walaupun kontribusiku tidak terlihat dan sangat sederhana, tapi inilah caraku, ini mampuku. Yukk...

Sunday, August 17, 2008

DIRGAHAYU INDONESIA KE-63
ULANG TAHUN DHANIKA KE-1

Dirgahayu artinya panjang umur atau wish for long life. Ya ampun baru tahu arti kata ini setelah aku mengalami 27 tahun Kemerdekaan Indonesia. Aku tahunya juga dari acara kuis di TV. Yang lebih mencengangkan lagi, aku baru tahu kalau Dirgahayu adalah bahasa serapan. bapakku sih bilang bahasa Kawi (Jawa Kuno), tapi aku tahu Malaysia punya lagu nasional yang berjudul Dirgahayu Tanah Airku. (Kemana aja sih mbak Rika, kok baru tau?)

Tahun ini aku merasa lebih punya rasa kebangsaan. Mungkin peristiwa perayaan yang aku alami tahun ini membuatku lebih bersyukur menjadi bagian dari Indonesia, negara kepulauan terbesar di dunia ini.

Tahun ini aku melihat lagi permainan-permainan khas 17-an yang sudah hampir punah. Panjat pinang, makan kerupuk, balap karung...kangen masa kecil sebelum wajib mengikuti upacara sekolah. Malam 17 Agustus, akhirnya sudah lewat. Beberapa bulan kebelakang aku sibuk mempersiapkan acara heboh di gereja parokiku. Sebagai anggota paduan suara dan sekretaris panitia, akhirnya aku merasa lega. Mungkin tidak 100% berhasil dengan sukses, tapi setidaknya lega karena sudah berhasil terlaksana.

Yang special di tanggal 17 Agustus kali ini adalah ulang tahun keponakanku tersayang, Dhanika, yang pertama. Kado yang sukses aku berikan dihari ulang tahunnya adalah tulisan HAPPY BIRTHDAY di dinding dan balon-balon yang aku pasang di pintu dan jendela. Senangnya bisa menjadi bagian dalam kebahagiaan di hari pentingnya.
Hanya perayaan kecil, berkumpul dengan keluarga dekat. Banyak kado-kado indah untuknya. Yang paling penting adalah doa berupa harapan-harapan baik untuk kehidupannya. Gak terasa anak lucu ini sudah berusia setahun. Selamat Ulang Tahun, sayang!

Saturday, June 28, 2008

LOVE YOUR LOCAL PRODUCT

Dalam suatu masa aku ingat propaganda yang digembar-gemborkan di negeri ini. “Cintai Produk Lokal” itulah bunyi jargon yang popular pada saat itu dan masih sampai saat ini. Mungkin sebagai konsekwensi mengikuti tren pasar bebas dan arus globalisasi maka masuknya produk-produk luar negeri pastinya tak terhindarkan bahkan diminati banyak orang di negeri ini. Menurutku hal positif yang terjadi adalah pilihan produk lokal yang semakin beragam, dan adanya persaingan untuk meningkatkan daya kompetitif bagi produk lokal. Negatifnya (kalau tidak hati-hati) akan mematikan produk lokal akibat meningkatnya mental konsumen impor. Parahnya akan bertambahnya pengangguran dan berubahnya kita menjadi bangsa kuli.

Aku tidak pandai kalau berbicara soal ekonomi apalagi politik. Tidak bermaksud untuk membahas hal itu tapi ternyata tulisanku jadi melebar. Awalnya aku ingin menulis ketidakpuasan akan jasa layanan perusahaan pemerintah, ketika aku ingin mengirim paket untuk murid istimewaku di bumi seberang. Dengan layanan yang tidak memuaskan dan harga sama mahalnya, lebih baik aku memilih layanan jasa luar yang punya franchise disini. Menurut pengalaman beberapa sumber, menggunakan layanan perusahaan lokal sangat beresiko, mulai dari sampainya tidak jelas samapai resiko barang hilang.

Yah…kalau begitu rugi buanget dong. Kepuasan layanan yang aku dapatkan dari jasa asing itu mulai dari penjelasan petugas term and conditions sejelas-jelasnya, adanya due date paket sampai pada recipient, dan juga aku bisa tracking sudah sampai dimana paketku berada dan siapa yang menerimanya. Intinya aku merasa secure untuk mempercayakan paketku dan puas pada akhirnya.

Jadi dalam hal ini ternyata produk local belum mampu bersaing. Ada harga tapi tidak ada rupa. Mungkin juga belum tentu untuk yang lain ya.

Friday, August 18, 2006

Hari ini tgl 17 agustus…hari dimana bangsaku merayakan ulang tahun kemerdekaan. Tahun ini entah mengapa aku sangat merasakan arti kemerdekaan dan bersyukur dengan kemerdekaan ini. 17 Agustus kali ini aku peringati dengan ikut misa di gereja. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, walaupun kadang berdiri di lapangan, menghormat pada bendera dan mengheningkan cipta, tapi rasanya semua tidak ada artinya..aku hanya mengikuti irama dimana saatnya aku harus menghormat atau menunduk.
Hari ini aku benar-benar merasakan betapa bersyukurnya aku punya bangsa yang merdeka. Di tengah menyanyikan lagu-lagu kebangsaan di gereja tadi, tiba-tiba aku teringat mimpiku…cita2ku… Aku berpikir…negaraku sudah merdeka 61 tahun…aku bebas…aku punya kesempatan yang luas untuk merealisasikan mimpi2ku…dan semuanya tergantung aku sendiri.
Obsesi untuk membuat coffee shop muncul kembali dengan sangat kuatnya hari ini. Keinginan yang sejak kuliah dan sampai sekarang belum sedikitpun pudar. Tiba2 ide yang sederhana muncul…bagaimana mulai melakukan sesuatu untuk mewujudkannya daripada diam tak ada arti. Tadi siang aku berniat untuk menuliskan besar2 mimpiku ini diatas kertas untuk ditempelkan di dinding kamar, supaya aku selalu ingat dan selalu berpikir untuk berbuat sesuatu untuk mewujudkannya.
Malam ini tiba2 ide tentang brand muncul. Entah mengapa term “corner” sangat menyita perhatianku. Lalu aku mulai mencocok-cocokan…”Coffee Corner” atau “R” Coffee Corner…(hehe…lucu juga dah mikir segini jauh)
Ternyata enthusiasm is inspirational ya. Semoga antusiasme ini selalu ada. Aku harus bisa mewujudkan mimpiku. Ini adalah perjuangan hidupku untuk mengisi kemerdekaan bangsaku(hehehe…opo tho rik?)